Saver Access, Evakuasi di Saat yang Sulit

Pelatihan saver access langsung mewarnai weekend Bhareganis di minggu pertama masuk sekolah (8/8/11). Kegiatan outdoor tersebut merupakan kegiatan rutin PMR SMA N 1 Purbalingga dalam rangka memberikan pelatihan teknik evakuasi korban di daerah yang sulit dijangkau. Wacana “Ekstrakurikuler kok membosankan” itu mungkin tidak akan pernah berlaku bagi para remaja yang tergabung dalam organisasi Bharega.

Pagi itu sekitar pukul tujuh waktu setempat, serombongan Bhareganis sibuk berkemas dan menaiki truk yang akan membawa mereka ke lokasi, Desa Wisata Serang Kabupaten Purbalingga. Tentu, mereka pergi dengan didampingi kedua Pembina PMR mereka, Mas Wawan dan Mba Gita. Saat truk mulai berjalan, aliran udara pagi memberikan sensasi tersendiri. Jalanan yang menikuk tajam dan pemandangan kanan-kiri yang dipenuhi oleh perbukitan juga pohon-pohon besar seolah-oleh mampu menghijaukan mata dan pikiran para Bhareganis.

Sesampainya di lokasi, Bhareganis mendapatkan pembekalan materi evakuasi yang disampaikan secara langsung oleh Rukmawan Suci Laswono (Mas Wawan). Mereka diingatkan kembali teknik-teknik yang harus mereka kuasai untuk menuruni tebing meskipun sebelumnya mereka sudah mendapatkan pembekalan yang matang. Ya, jangan kaget jika kegiatan saver access melatih Bharganis menuruni sebuah tebing atau jembatan hanya dengan menggunakan seutas tali. Yang membedakan rapling dengan saver access adalah kalau rapling itu hanya menuruni sebuah tebing tapi kegiatan saver access ini mengajarkan teknik-teknik untuk membawa korban dari ketinggian dengan menggunakan seutas tali (kata anak PA (pecinta alam) itu namanya carmantel ^,^ kalo ngga salah si tulisannya kaya gitu). Bagi yang belum pernah mencoba kegiatan ini pasti akan terasa menyeramkan, tapi tenang kagiatan ini selalu dalam pengawasan dan penjagaan dari ahlinya. Meskipun demikian masih ada saja Bharega kelas X yang ragu-ragu bahkan menjerit ketika harus turun dari jembatan, rata-rata dari mereka yang menjerit itu disebabkan oleh ketakutan mereka terhadap ketinggian (-,-“ takut jatuh kali…). Walaupun takut akan ketinggian, semua Bharega kelas X akhirnya turun juga.

Waktu itu cuaca kurang mendukung, hujan turun tepat setelah semua Bharega kelas X selesai melakukan kegiatan itu. Karena itu Tartika Muqsita Dewi selaku ketua kegiatan ini menyarankan untuk melanjutkan kegiatan ini di gedung Perhutani. Meskipun cuaca tidak mendukung acara tetap dilanjutkan dengan makan siang dan games yang sudah direncanakan oleh panitia. Setelah merampungkan semua kegiatan, kurang lebih pukul 14.00 WIB Bhareganis meninggalkan lokasi. Sebagian besar wajah Bhareganis yang sudah menuruni tebing itu menggambarkan kepuasan tersendiri. Dan semoga kegiatan ini menambah pengalaman yang baru bagi tiap-tiap Bhareganis. SEAMO!!!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s